Google+ Followers

Jumat, 26 Juli 2013

Kurikulum 2013 , sesuai peminantan

Kurikulum 2013, Peminatan di SMA Sesuai Rapor dan Wawancara
Kamis, 11 Juli 2013 | 9:56
[JAKARTA] Kurikulum 2013 untuk jenjang SMA memakai sistem peminatan dengan tiga pilihan yaitu Matematika dan IPA, IPS, serta Bahasa dan Kebudayaan. Para siswa SMA memilih peminatan sejak duduk di kelas X (I SMA). Seleksi peminatan akan dilakukan berdasarkan nilai rapor SMP dan wawancara oleh guru Bimbingan dan Konseling (BK). 

“Peminatan dilihat berdasarkan rapor dan minat anak. Kalau nilai sudah tinggi bisa langsung sesuai minatnya, tapi kalau tidak harus dilihat betul dari wawancara guru BK,” kata Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pendidikan Musliar Kasim kepada SP di Jakarta, Kamis (11/7). 

Musliar menjelaskan kurikulum baru tidak lagi memakai istilah penjurusan tetapi peminatan. Menurutnya, sistem penjurusan di SMA selama ini hanya didasarkan nilai saja tanpa mempertimbangkan minat siswa. “Tujuannya supaya anak berkembang sesuai keinginan atau minatnya. Selama ini berdasarkan nilai saja belum tentu anak minat kesana,” ujarnya. 

Musliar mengatakan Kurikulum SMA memiliki dua kelompok mata pelajaran (mapel) wajib ditambah mapel peminatan. Dalam seminggu, siswa belajar selama 46-48 jam pelajaran. “Meski sudah memilih peminatan, yang unik, siswa tetap boleh mengambil dua mata pelajaran antarminat. Misalnya, siswa peminatan IPA mengambil mapel Bahasa Jerman,” katanya. 

Musliar mengakui bisa terjadi penumpukan jumlah siswa di satu minat. Oleh karena itu, sekolah perlu melakukan tes wawancara oleh guru BK agar setiap peminatan sesuai kuota. Terkait teknis pembelajaran, dia memberi kebebasan kepada sekolah. Sekolah bisa menerapkan siswa yang pindah kelas (moving class) seperti di jenjang perguruan tinggi atau siswa tetap berada di kelas seperti yang saat ini berlaku. 

“Hal-hal teknis sekolah yang mengatur,” katanya. 

Dalam struktur Kurikulum SMA terdapat dua kelompok mapel wajib (Kelompok A dan Kelompok B). Kelompok A terdiri dari Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Sejarah, dan Bahasa Inggris. Kelompok B terdiri Seni dan Budaya, Prakarya, serta Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Sedangkan untuk Kelompok C adalah mapel peminatan, terdiri dari mapel peminatan akademik untuk SMA dan mapel peminatan akademik dan vokasi untuk SMK. 

Kemampuan Guru BK
Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Plus PGRI Cibinong, Jawa Barat, Basarudin Toyib, meragukan sistem peminatan sejak kelas X bisa berjalan baik. Menurutnya, peminatan dalam kurikulum baru sangat mengandalkan kemampuan guru BK untuk meyakinkan anak. Padahal, kemampuan dan jumlah guru BK di sebuah sekolah sangat terbatas. 

“Dalam kurikulum sekarang, anak diberi kesempatan untuk mengukur diri jadi tidak langsung penjurusan. Saya tidak kuat di Fisika maka masuk jurusan lain. Tapi kalau sekarang sangat mengandalkan pengarahan guru BK meskipun ada landasan nilai rapor SMP,” ujar Basarudin. 

SMA Plus PGRI Cibinong adalah salah satu sekolah sasaran Kurikulum 2013. Basarudin mengatakan sekolahnya mengirimkan delapan guru untuk mengikuti pelatihan kurikulum baru. Dalam pelatihan tersebut, pemerintah baru siap untuk tiga mapel yaitu Sejarah, Bahasa Indonesia, dan Matematika. “Tanggal 15 guru sudah harus masuk, waktu terbatas, padahal buku yang harus dipelajari cukup tebal. Pemerintah harus sadar kemampuan guru kita. Pasti susah mendapatkan hasil optimal kalau serba asal jalan,” tandasnya. 

Basarudin juga mengikuti pelatihan Kurikulum 2013 untuk jenjang kepala sekolah. Namun, dia merasa bingung karena materi pelatihan kepala sekolah sama dengan materi pelatihan guru. “Seharusnya kepala sekolah lebih kepada materi tentang kebijakan,” katanya. [C-5]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar